Di Balik Umar bin Abdul Aziz

Percis seperti kehebatan Nurudin Zanki yang tertutupi oleh kegagahan Solahudin Al-ayyubi

Catatan Pembelajar

Siapa tak kenal Umar bin Abdul Aziz? Sebagaimana menjadi kesepakatan (ijma’) ulama, Umar adalah mujaddid (pembaharu) pertama dalam sejarah Islam. Khalifah yang berkuasa pada zaman Daulah Umayyah ini berhasil menorehkan prestasi gemilang dalam waktu hanya dua tahun pemerintahannya. Islam yang nampak kusam kembali indah dipandang hingga membentang luas dari Spanyol hingga Cina di bawah kepimpinanan cucu Umar bin Khattab itu. Tapi, tahukah kita sosok di balik khalifah berjuluk “khulafaur rasyidin ke-5” tersebut?

Adalah Raja’ bin Haywah tokoh sentral yang mengantarkan Umar bin Abdul Aziz menjadi seorang amirul mukminin. Pernahkan Anda mendengar nama itu? Nampaknya, amat sedikit kaum muslimin zaman sekarang yang mengenalnya. Padahal, nama Raja’ amat masyhur di kalangan ulama dan masyarakat luas pada masa itu. Nah, supaya tidak terus-terusan buta sejarah, mari mengenal lebih dekat sosok Raja’ bin Haywah. 

View original post 1,133 more words

Advertisements

Di Balik Umar bin Abdul Aziz

Percis seperti kehebatan Nurudin Zanki yang tertutupi oleh kegagahan Solahudin Al-ayyubi

Catatan Pembelajar

Siapa tak kenal Umar bin Abdul Aziz? Sebagaimana menjadi kesepakatan (ijma’) ulama, Umar adalah mujaddid (pembaharu) pertama dalam sejarah Islam. Khalifah yang berkuasa pada zaman Daulah Umayyah ini berhasil menorehkan prestasi gemilang dalam waktu hanya dua tahun pemerintahannya. Islam yang nampak kusam kembali indah dipandang hingga membentang luas dari Spanyol hingga Cina di bawah kepimpinanan cucu Umar bin Khattab itu. Tapi, tahukah kita sosok di balik khalifah berjuluk “khulafaur rasyidin ke-5” tersebut?

Adalah Raja’ bin Haywah tokoh sentral yang mengantarkan Umar bin Abdul Aziz menjadi seorang amirul mukminin. Pernahkan Anda mendengar nama itu? Nampaknya, amat sedikit kaum muslimin zaman sekarang yang mengenalnya. Padahal, nama Raja’ amat masyhur di kalangan ulama dan masyarakat luas pada masa itu. Nah, supaya tidak terus-terusan buta sejarah, mari mengenal lebih dekat sosok Raja’ bin Haywah. 

View original post 1,133 more words

Tantangan Pemuda Era Modern

Semakin kita nikmati adab 21 yang serba cepat dengan teknologinya, semakin kita terlena dengan banyak hal yang dekat lalu terlupakan. Seperti para pembalap yang berlari kencang dan menghiraukan keadaan terdekatnya. Efeknya, dunia yang serba praktis ini melunakan akal kita untuk berproses dengan teori yang pendahulu kita pelajari dan praktikan. Sehingga standar kebaikan, kesuksesan dan juara hanya dilihat di akhir saja. Orang-orang yang berproses seperti terhina dengan jalannya yang tak kunjung usai. Padahal jika melihat teori dakwah islam, kita akan menemukan perintah dakwah adalah tabligh atau menyampaikan. Sedangkan hidayah hanya datang dari Allah, karena ini juga paman Rasul tidak bersyahadat hingga akhir hayatnya. Begitu juga juara dan kesuksesan Allah yang tentukan.

Dibalik itu semua kita juga tidak bisa luput dari fenomena  sebab-akibat yang nyatanya kita alami. Allah juga berfirman “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11. Tidak ada istilah ujug-ujug di dunia ini, semuanya memilki sebab untuk ditempuh, seperti halnya nothing is impossible harus dilalui dengan kesiapan, rencana matang dan kesungguhan. Dengan semakin praktisnya kehidupan ini semoga kita bisa tetap istiqomah dengan proses yang dibenarkan agama dan norma.

Pemuda akan menjadi aktor utama sekaligus menjadi korban utama di era modern ini. Ia akan berperan besar karena kualitas dan kuantitasnya, tapi mungkin akan jadi bulan-bulanan karena uncontrol dan out of order atau ketidak siapan dalam menghadapi keadaan ini. Khususnya Indonesia merujuk kepada BPS (Badan Pusat Statistik) statistik pemuda Indonesia 2014 sekitar 24,53% ditambah dengan umur 30 tahun ke atas mencapai lebih dari 40%. Artinya Indonesia berpotensi memberikan peran-peran strategis untuk kemajuan bangsanya melalui kerja profesional. Dan ini menjadi salah satu PR dan tantangan pemuda untuk berkomunikasi dengan orang tua yang berpengalaman, dan berkolaborasi tanpa sekat umur untuk hidup yang lebih sejahtera.

Selain tentang kemampuan komunikasi dan kolaborasi dengan yang lebih berpengalaman, ada satu tantangan yang cukup mewakili banyak problem kita alami selama ini. Saya menyebutnya “KOSONG”, atau Akmal Sjafril M.Pd.I menjelaskannya dengan “waktu kosong”.

Dan harus kita akui, waktu kosong menjadi kunci dari mana permasalahan itu datang. Keadaan kosong seperti memanggil apapun yang ada di sekita kita. Semuanya masuk di waktu yang sama tanpa memandang itu manfaat atau masalah. Setelah masalah itu masuk , hal besar yang berbahaya adalah kemana masalah itu menarik kita. Tergantung jenis apa masalah itu. Apakah kepada kemaksiatan atau kebodohan, kesombongan atau kerendahan, kemunafikan atau kemalasan. Tidak ada yang tau dan sadar, tergantung dimana keadaan kosong itu bergaul. Jika rintangan-tantangan-hambatankekosongan itu ketika kita melihat preman-preman di pasar, maka masalah akan mengajak kita kepada kesombongan dan kemalasan sekaligus, jika kekosongan itu dalam kondisi party dengan para korupto maka kita akan diajak kepada
kemunafikan dan kemaksiatan.

Oleh karena itu, Iman harus selalu hadir dimanapun posisinya. Waktu kosong harus diisi dengan hal yang menguatkan iman dan islam kita. Atau dalam artian tidak ada waktu kecuali kita mengisinya dengan hal positif, tilawah, dzikir. Rasulullah saw. bersabda “Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya yakni nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari). Ibnu Jauzi berkata وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ 

Artinya : “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil”

Betapa waktu kosong menjadi faktor yang cukup membuat keadaan tidak baik merajalela. Tidak ada yang netral, jika tidak diisi dengan kebaikan maka yang ada adalah keburukan. Tujuan atau terget menjadi hal yang harus ditekankan, sehingga pemuda akan berjalan di muka bumi dengan proses-proses yang menuju kepada tujuan mulianya. Dan hidupnya tidak akan mengalir terbawa arus yang tak tentu arahnya.

“KOSONG” lainnnya selain waktu kosong, yang menjadi masalah adalah pikiran kosong. Secara esensi keduanya sama-sam harus diisi dengan kebaikan. Yang membedakan adalah masalah yang dihadirkan. Pikiran kosong bagi pemuda adalah keadaan kita yang tidak berencana dalam dakwah ini, kita hanya mengikuti arus yang ada dan tidak kritis. Pikiran kosong itu keadaan kita yang benar-benar hampa dari tujuan, membiarkan kebusukan berkembang biak tanpa batas.

Pikiran kosong juga termasuk keadaan pemikiran kita saat diisi hal yang tidak baik. Seperti merasuknya pemikiran sekularisme, liberalisme atau pluralisme agama. Karena pemikiran yang berisi adalah pemikiran yang benar dan tidak menentang syariat. Maka pemikiran-pemikiran selain itu anggaplah nihil tak bernilai. Dan ini menjadi penyakit berat dan cukup berbahaya bagi kalangan muda yang penuh semangat.

Simpelnya pikiran yang kosong adalah keadaan pemikiran kita yang acuh denga kerusakan yang ada dan tidak ada rencana untuk menanganinya dan munculnya pemikiran yang  nyeleweng dari syariat islam. Dan keadaan kosong ini rasanya banyak dialami oleh kita, Terkadang kita lebih memilih nyaman ketimbag mengambil resiko untuk memperbaiki keadaan, atau merasakan semangat juang, namun pada jalan tidak dibenarkan dihadapan Allah. Semoga kita selalu bisa mengisi kekosongan karena inilah tantang pemuda era modern yang sebenarnya. Wallahu a’lam.

Matiku Milik-Mu

Tuhan
Kalau bukan karena tingginya gunung
Akulah orang terbodoh di dunia
Karena hewan lebih pandai berburu
Monyet dan keluarga sudah ternafkahi

Tuhan
Kalau bukan karena luasnya lautan
Dunia akan terbakar permusuhan
Karena sudah tak sadar siapa penciptanya
Tanah dijadikannya tempat menjajah

Tuhan
Kalau bukan karena birunya langit
Tanah akan dilumuri dengan darah
Mereka tidak takut melayangkan pisaunya
satu, dua tiga anak Adam dimakan tanah

Tuhan
Badanku gemetar
Pesisir bukan lagi hiburan kecuali penjahat
Tanah tidak dikagumi lagi karena takut
Tiba-tiba peluru datang dari arah barat
Tajam atau halus miliknya Orientalis

Tuhan
Sekadar duduk di kursi lama ini
Di dalam rumah tua tanpa AC
Kita tak berani lagi, angin luar siap menyengat
Dengan berita yang entah siapa menembakannya

Tuhan
Kalau begitu biarlah aku keluar
Menahan gempuran halus dengan otak
Menyerang dengan batas tubuh pemberianmu
Angin, laut, tanah dan langit itu ciptaanMu
Tidak ada lagi ketakutan
Karena Matiku milikMu

Nilai Juang

sahabat

Dunia tidak berputar semaunya
Poros menentukan langkah hidupnya
Manusia tetap bersama rencana
Lajur kebahagiaan ada di dalamnya

Iman kita mulai berhasrat
Bersama kita mulai berjuang
Menggapai puncak dengan Cinta
Dan cita merasuk otot menggerakannya

Maafkan aku yang hilaf dengan kebersamaan
Melupakan canda tawa dalam perjuangan
Demi tempat kembali yang menawan
Ku relakan kebahagiaan ku

Aku ingin renungkan cita dan cinta kita
Bukan tentang pendustaan
Tapi perjuangan kecil yang istiqomah
Dan bernilai dimanapun adanya

Al-multazam 2, Linggajati.
09.05 3 September 2016

Selamat Berencana

….إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ….

Artinya : “…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka… ”.

Merujuk pada ayat diatas, keadaan sebuah bangsa tidak akan beranjak dari kerusakan jika tidak dengan dirinya sendiri. Kita akan mendapatkan buah jika menanam, buah itu tidak tumbuh dengan sendirinya. Buah itu sesuatu yang berharga, dia tidak seperti rumput liar yang tidak diinginkan hadirnya.

Rencana adalah sebuah perjalanan usaha yang terdiri dari rukun yang tersusun dan beralur. Ia dilakukan untuk mencapai tujuan jangka panjang. Sederhananya rencana itu jalan panjang yang harus ditempuh untuk sebuah tujuan. Termasuk merubah diri sendiri atau bangsa sendiri kepada hal yang baru dan baik harus melalui sebuah rencana yang terbentuk dari sebuah pengalaman dengan meminimalisir hal-hal yang tidak cocok disandingkan dalam rencana ini. Pengalaman menjadi sandaran utama untuk rencana. Ia harus memberi pelajaran yang utuh dengan fenomena-fenomena selama perjalanannya kepada tubuh rencana itu.

planning-image.jpg

Tapi sebenarnya siapa yang membuat rencana ? Bukankah Allah sebaik-baik rencana. Lalu apa guna rencana kita, jika rencana Allah yang akan terlaksana. Tidak jarang juga kita mendengar kata “Allah sebaik-baik perencana”.

Tidak ada pertentangan dalam hal ini. Karena Allah bukan manusia yang penuh dengan rasa ragu. Jika dalam ikhtilaf fiqh tidak ada yang salah selama ijtihad itu berdasarkan dalil yang kuat. Yang ada hanya benar dan benar sekali, jika qunut benar sekali maka tidak qunut adalah benar. Sedangkan perihal rencana, manusia berencana Allah yang menentukan. Berencana yang baik adalah kebaikan, meskipun tidak tercapai. Sedangkan keadaan yang Allah tentukan itu harus diyakini yang terbaik dariNya.

Membuat rencana seperti posisi da’i menyampaikan dakwahnya kepada umat. Dakwah harus disampaikan kebaikan harus dilangsungkan. Tapi bukan kewajiban atau tanggungan bagi da’i tentang hidayah bagi si madh’u. Tugas kita hanya merencanakan sebagaimana kewajiban hanya menyampaikan. Sedangkan hasil kita serahkan kepada sebaik-baik Perencana.

Ghazwul Fikri Dan Pemuda (2)

Orientalisme adalah ideologi terdepan dalam infeksi penyerangan ghazwul fikri. Ia memulai gerakannya dengan percaya diri dan masif, langkahnya tenang dan meyakinkan akal akan kelogisan berpikir. Ia tidak menyerang budaya kita dengan budayanya, tapi mendirikan akal pikiran baru yang dikehendaki oleh dirinya. Lalu menjadikan hal baru itu bagi kita pangkal bertolak pikiran kita kedepan. 
Salah satu senjata orientalis adalah display yang mayoritas umat meliriknya, khususnya pemuda. Sasarannya tentu media, media yang menjadi sandaran kita berpikir dan bertolak ke pemikiran dan sikap kita. Terlebih pemuda yang sangat haus dan semangat dalam mencari tahu hal baru dan mainstream. Ini seperti orientalis memberi umpan lalu pemuda melahap, karena memang itu santapan favoritnya. 

Melihat fakta ini, sebagai pencegahan langkah pemuda adalah filtering apa yang akan dikonsumsi. Peringatan ini tidak bersifat spesial untuk konsumen internet semata. Tapi berlaku untuk apapun yang menjadi konsumsi otak pemuda, termasuk; perpustakaan buku, dunia film, kontroversi sejarah sampai fashion sekalipun. Semuanya harus menjadi perhatian mata kita dalam membagi porsi apa yang akan kita nikmati dalam alam pikiran. Selain itu, hal yang cukup menyeluruh ini perlu diperhatikan, karena memang orientalis menyusup meliputi semua bidang ; pendidikan, ekonomo, aqidah, sopan santun, sosial, politik hingga ilmu pengetahuan (sains).

Kemampuan orientalis dalam mengasah senjatanya dengan begitu halus, membuat hasil karyanya samar di mata kita. Pernyataanya benar di mata logis tapi bobrok di mata syariah. Mereka bermain di alam akal, tapi memainkannya dengan hawa nafsu, lalu menyampaikan kepada kita dengan indah. 

Bersikap islami adalah tuntutan dan kesadaran. Selektif menerima info termasuk sikap islami yang tepat menghadapi masalah ini. Kisah Walid bin ‘Uqbah yang diutus Rasul kepada Al-Harits untuk mengambil zakat adalah asbabun nuzul dari QS Alhujurat : 6 yang bisa kita petik ibrahnya. Betapa pentingnya kita waspada menghadapi berita (berupa apapun yang mempengaruhi pemikiran kita) hingga Rasulullah ketika dihadapkan dengan Walid yang berdusta dengan beritanya tidak percaya begitu saja. Lantas Rasul mengutus sahabat lainnya untuk crosscheck perihal Al-Harits. 

Sikap Rasulullah adalah contoh bagaimana kita menyikapi media entah itu pendidikan, internet, dunia politik atau ilmu sains yang tidak tahu siapa dan dari mana asalnya. Bahkan Rasul tetap hati-hati dengan berita dari utusanya sendiri. Lebih lagi kita yang menyantap yang tidak jelas sumber landasannya dan biograpi pengarangnya.

Pemuda memang menjadi sasaran empuk seperti saya sampaikan di edisi pertama (Ghazwul Fikri Dan Pemuda (1) klik link https://azharrijal.wordpress.com/2016/08/31/ghazwul-fikri-dan-pemuda-1/?preview=true ). Oleh karena itu, harus lebih selektif dalam mengunyah bacaan dan hiburan yang dihidangkan. Mampu memilih dan memilah mana yang benar di mata Allah dan RasulNya, mana yang hanya tipu muslihat semata. Sikap ini sangat penting tapi kecil lalu terlupakan. Jika mengutip pendapat Malik Bin Nabi dalam bukunya Fenomena Al-quran, diantara penyebab kita (pemuda) terbawa arus pemikiran orientalis adalah minimnya literatur pada perpustakaan kita, atau apapun yang menjadi maraji’ kita berpikir dan berpendapat, efeknya adalah pindahnya konsumsi mata kita kepada karya-karya orientalis yang tersebar ke segala penjuru dan dijualpun dengan harga murah. Efek besarnya adalah kepada para pelajar, mahasiswa atau aktivis yang semangat menggelora mencari landasan berpikir dan bergerak. Ketika landasan dari keislaman minim dan tertinggal, mereka pindah kepada yang lebih murah, banyak dan update. 

Malik bin Nabi menambahkan bahwa keakraban akan pikiran pemuda dan barat menjadi faktor merajalelanya orientalisme dalam ghazwul fikri ini. Semakin maraknya budaya barat yang diangkat ke permukaan kita, semakin budaya yang sudah dicekoki orientalisme itu mendarah daging dengan kebiasaan kita. Inilah yang saya maksud dengan senjata halus ala orientalisme.

Alhujurat ayat 6 tadi menjadi dasar sikap menghadapi fenomena yang cukup masif menghantui pemuda dari segala bidang. Kemampuan analisis pemuda harus dipertajam, sehingga tetap fokus dengan tujuan keislaman tanpa campur tangan orientalisme.